Tampilkan postingan dengan label my books. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label my books. Tampilkan semua postingan
Selasa, 26 April 2016
Buku Baru: Strawberry Cheesecake
Judul: Strawberry Cheesecake
Halaman: 308
Terbit: April 2016
Penerbit: Bentang Pustaka
Sinopsis:
Selama menjadi artis terkenal, tantangan kali ini benar-benar mengusik Alana. Demi menarik simpati pujaan hati yang tak kunjung menerima cintanya, Alana menerima tantangan itu . Reality show membuat kue! Di sinilah petaka dimulai. Alana bisa melakukan apapun, kecuali memasak! Kalau bukan karena Aidan, mana mungkin ia bersusah-susah melakukan ini.
Ia terpaksa harus berbohong di depan kamera bahwa ia mahir membuat cake. Adonan menjijikkan, kue bantat, dekorasi mengerikan adalah hasil karya Alana selama proses syuting. Untungnya, ia bertemu Regan, seorang karyawan baru di Strawberry Garden Deli, kafe tempat mereka syuting. Alana takjub dengan kemampuan Regan membuat kue. Karenanya, Alana membujuk Regan habis-habisan untuk mengajarinya demi keperluan syuting.
Meski Regan galak dan menyebalkan, Alana terpaksa belajar darinya. Alana benci harus menghadapi Regan yang sok cool itu setiap hari. Alana benci ketika Regan selalu meremehkan kemampuannya, yang sebenarnya memang tidak ada. Alana benci terlihat bodoh di depan Regan. Dan, yang paling tidak disukai Alana adalah ia benci harus menyangkal tunas-tunas perasaan yang tumbuh di hatinya, untuk Regan.
Senin, 29 Juni 2015
Cupikan Mermaid Melody #3
Sabrina, Fans Jung Woo
Bisa-bisanya dia membawa
Oppa dengan cara menyetirnya yang seperti itu. “Kejar terus!” teriakku. Aku
bahkan sudah tidak peduli pada rambutku keriting sebelah. “Kita harus
menyelamatkan Oppa!”
Alea Kei, Pengangguran
Oppa? Jung Woo? Jung Woo
penyanyi Korea itu?
Aku tahu Jung Woo, dia
pemeran utama Rain All Day, drama Korea yang sedang disiarkan di TV. Artis
Korea itu sebenarnya bisa saja menjadi idolaku kalau perannya di drama itu
bukan sebagai cowok egois. Aku juga bisa menyanyikan beberapa lagu Jung Woo
yang menjadi soundtrack-nya. Selain karena video klipnya sering muncul di TV,
kemarin aku juga menjadi usher (9) di acara meet & greet, juga konsernya.
Aku sempat melihatnya dari kursi VVIP paling depan, jadi aku cukup mengenal wajah
Jung Woo yang sebenarnya.
(9) Petugas yang mengantar
penonton ke tempat duduk sesuai tiketnya.
Hah … cewek-cewek tadi
pasti sudah gila. Cowok yang duduk di sampingku ini jelas-jelas bukan Jung Woo.
Baiklah, agak mirip memang. Dari rembesan cahaya pinggir jalan yang masuk ke
mobilku yang gelap aku bisa mengamati cowok yang memang posturnya mirip cowok
Korea. Wajahnya pun mirip Jung Woo. Tapi, kan mirip bukan berarti dia Jung Woo
dan perlu dikejar-kejar edan kayak tadi.
Mana mungkin Jung Woo
berkeliaran sendiri di malam seperti ini? Dengan kepala berbalut handuk pula.
Belum lagi, wajahnya berminyak. Mana mungkin Jung Woo nggak mampu beli kertas
wajah? Dan, perbedaan yang paling signifikan adalah kumis dan jenggotnya yang
berantakan. Kalaupun Jung Woo punya kumis dan jenggot, dia pasti jadi seksi,
bukan terlihat seperti om-om pedofil begini.
“Geunde, gejjokeun
nuguseyo? Jeoneun hamburo sarameul taewojuji anhgodeunyo. Geurigo, eodiro
garyeogo haseyo? Wae gapjagi nameui chareul thasigo, tto wae geu yeojadeuri
geujjokeul dwijjochasseoyo? (10)” tanyaku. Kalau dia benar Jung Woo, dia pasti
bisa jawab.
(10) Siapa kamu sebenarnya?
Aku nggak mau mengangkut orang sembarangan. Oh, dan mau ke mana? Kenapa kamu
tiba-tiba masuk mobilku dan kenapa cewek-cewek itu ngejar kamu?
“Neon jilmun manhi
haetteora (11),” jawabnya.
(11) Pertanyaan kamu banyak.
“Oke, satu-satu. Kamu ini
siapa?” tanyaku sambil menjaga kecepatan.
“Jung Woo,” katanya penuh
percaya diri.
“Maksudku dengan ‘nggak
mau ngangkut orang sembarangan’ bukan berarti kamu harus ngaku-ngaku jadi Jung
Woo.”
Alisnya bertaut menatapku,
“Kamu nggak percaya?”
“Ya jelas nggak percaya.
Kamu pikir aku nggak pernah ketemu Jung Woo, heh? Kemarin aku ini usher di
acara meet & greet dan konsernya, lho! Asal kamu tahu, aku minta tanda
tangan langsung dari Jung Woo dan kami foto bareng. Aku udah pernah ngeliat
Jung Woo dari dekat, aku hafal lekukan mukanya! Jadi, kamu jangan ngaku-ngaku Jung Woo.
Cewek-cewek itu mungkin bisa tertipu, tapi aku nggak!” kataku memberi
peringatan
“Oh, kamu usher acaraku?
Sugohasyeosseoyo (12).”
(12) terima kasih sudah bekerja keras.
“Aku tidak perlu terima
kasih darimu. Agensi sudah membayarku tepat waktu, itu sudah cukup. Aku mau
lihat KTP kamu! Buktikan kalau kamu memang Jung Woo!”
“KTP apa?”
“KTP! KTP! Identity card!”
“Oh, ada copy paspor.
Sebentar.” Cowok itu lalu merogoh kantong belakang celananya. Keningnya
berkerut, matanya bergerak-gerak panik, wajahnya tampak ketakutan. Jangan
sampai dia menangis di sini. Dia merogoh sebelah kanan, kiri, kantong depan.
Gerakannya mulai gelisah. Ah … dia pasti mengelak untuk memperlihatkan
identitasnya. “Dompet saya hilang!”
“Ha … ha … ha … alasan!
Kamu enggak bisa membuktikan kalau kamu Jung Woo, kan?”
“Aku Jung Woo!” pekiknya
hampir menangis.
Aktingnya lumayan bagus.
Harusnya dia masuk ke mobil Ram Punjabi, bukan mobilku.
“Ini lihat!” dia melepas
handuk yang ada di kepalanya. Rambutnya lepek berlepotan krim hijau
menjijikkan. Dia kemudian menarik sesuatu di dagunya. Terlepaslah jenggot
buatan dan kumisnya. Dia memang punya sudut rahang tegas tapi dagu yang lembut.
Matanya yang agak bulat bersinar cemerlang
seperti mata kelinci, sangat khas Jung Woo. Tapi tetap saja, dia bukan Jung
Woo.
“Kenyataan bahwa Jung Woo
tiba-tiba masuk sendiri ke mobilku terlalu manis untuk jadi kenyataan,” kataku.
“Mimpi dan kenyataan dua hal yang berbeda. Ketika kamu tidak tidur, lupakan
mimpi. Kamu tidak akan bisa jalan kalau kamu terus terpejam.” Pengalaman
membuatku mahir untuk membedakan mana kenyataan dan mana mimpi. Kalau memang
dia Jung Woo berarti aku sedang bermimpi. Kalau ini kenyataan, maka dia bukan
Jung Woo. Itu saja pilihannya.
“Mimpi dan kenyataan
memang dua hal yang berbeda, tapi mimpi membuatmu jadi nyata,” dia membalas
dengan yakin. “Kalau kamu tidak pernah bermimpi, maka kamu tidak akan pernah
hidup. Kamu bangun karena kamu pernah tidur.”
“Baiklah, Jung Woo,” aku
mengikuti permainannya. “Kenapa cewek-cewek itu mengejar kamu?”
“Karena mereka tahu aku
Jung Woo. Aku sudah menyamar dengan kumis, jenggot, kaca mata hitam dan topi.
Biasanya ini berhasil. Tapi, waktu di salon tadi aku harus melepas kacamata dan
topiku. Aku tidak menduga mereka mengenaliku.”
Wah … wah … wah … cowok
ini juga berbakat menulis skenario sinetron.
“Aku panik, lari.
Kebetulan mobilmu terbuka tadi, jadi aku ….” Kata-katanya terpotong oleh dering
ponsel.
Jumat, 19 Juni 2015
Cuplikan Mermaid Melody # 2
Cha Jung Woo, Artis & Penyanyi
Fans-ku di Indonesia memang gigih. Saat tahu penyamaranku terbongkar di salon, aku segera mengambil langkah seribu untuk kabur. Mereka pontang-panting mengejarku hingga ke luar mal dengan rambut masih berantakan. Di antara para fans yang menyerukan namaku, aku juga sempat mendengar kalimat, “Bayar dulu!” Sudahlah, besok saja.
Dalam beberapa detik, kami sudah keluar dari parkiran dan melaju cepat di jalan raya. Saat aku menoleh ke belakang, ternyata ada mobil yang mengikuti kami. Tiga atau empat mobil. Ih … ngeri … ini seperti adegan balapan di jalan raya. Mereka membuka jendela dan meneriakkan namaku. Salah satunya cewek dengan rambut keriting sebelah tadi, “Jung Woo oppa!” teriaknya.
Cewek yang ada di sampingku menoleh padaku. Dia mengobservasi wajahku, kemudian tertawa. “Yang bener aja!” katanya sambil terkekeh tidak percaya. Ketika orang lain histeris mengenaliku, cewek ini malah tidak percaya kalau aku Jung Woo.
“Jangan tertawa! Cepat ngebut! Jangan sampai mereka mengejar kita,” kataku. Sepertinya dia agak berlebihan menanggapi kalimatku. Kecepatan mobil ini membuat jantungku seperti bergeser ke tempat lain. “Jangan sekencang ini,” kataku. Jujur, aku agak ketakutan dengan cara menyetir cewek ini. Kami ada di jalan raya, bukan sirkuit balap.
“Tadi suruh ngebut, sekarang suruh pelan, gimana sih?” tanya cewek itu sewot sambil memperlambat kecepatan. “Mau pelan apa ngebut?”
“Jung Woo Oppa!” suara itu menembus kaca jendela mobil. Aku melihat spion dengan ngeri. “Saranghae!!!” Gila! Mungkin si Keriting Sebelah itu habis menelan pengeras suara.
“Ngebut!” kataku. Tidak perlu disuruh dua kali, cewek di sampingku menekan pedal gas dalam-dalam dan aku menutup mata. Semoga saja aku tidak mati. Aku beruntung kalau aku hanya jadi gila.
yuk nonton book trailernya di http://youtu.be/1muPt4SD50A
Senin, 15 Juni 2015
Cuplikan Mermaid Melody #1
Cha Jung Woo, Artis & Penyanyi
Perasaanku mulai tidak enak. Di sampingku, cewek Korea dengan kepala di dalam alat steam rambut sudah melirik-lirikku curiga. Kuraba atas bibirku, kumis palsuku masih menempel dengan sempurna. Matanya penuh hasrat ingin tahu. Pandangannya berganti-ganti, sebentar padaku, sebentar pada laki-laki di poster iklan cat rambut yang modelnya cowok Korea dengan tatapan memikat. Ya, itu adalah aku sendiri hi … hi … hi ….Sungguh, baru kali ini, aku merasa membutuhkan kreativitas anti-fans-ku untuk membuat posterku jadi bungkus ddong ppang (1) saja. Siapa sih orang kurang kerjaan yang membingkai posterku semewah itu? Dia mau bikin salon atau galeri?
(1) Disebut juga poop bread adalah jajanan khas Korea yang berbentuk kotoran. Biasanya dibungkus dengan kertas yang bertuliskan petunjuk cara memakannya. Di Korea, seseorang yang bermimpi tentang poop, dipercaya akan mendapatkan keberuntungan.
“Tolong kepalanya agak diangkat, Ahjussi (2),” kata sang Petugas Salon yang nggak tahu situasi. Sial! Aku menaikkan daguku sedikit. Antena waspada menyala sementara dia menutup rambutku dengan handuk hangat. Ah … enaknya .... Aku suka ini! Aku selalu memilih handuk hangat daripada steam rambut. Selain panasnya kadang suka kelewatan, steam rambut juga bisa membuat rambut kering. Handuk hangat lebih bersahabat dan nyaman.
(2) Paman.
Hal penting lainnya, yaitu pijitan kapster yang enak dan krim creambath alpukat yang bagus. Aku selalu creambath dengan krim alpukat, meskipun tidak sewangi krim buah lainnya, tapi alpukatlah yang paling efektif untuk menjaga kelembapan rambut. Rambut jadi tidak kering meskipun sering ditempa hair streightener atau curling iron. Dua benda itu, kan tidak mungkin dihindari setiap kali aku akan tampil di panggung.
Kyung Ro Hyung (3) benar, salon ini lumayan juga. Biasanya, aku tidak percaya selera Hyung, tapi mengingat dia sudah lama di Indonesia, kupikir, sebagai turis, tak ada salahnya aku mengikuti rekomendasinya. Hyung bilang, hairstylist di sini bisa berbahasa Inggris dengan baik, jadi kita bisa diskusi masalah tatanan rambut yang sesuai. Bahkan, beberapa hairstylist bisa berbahasa Korea. Mereka selalu update dengan tren rambut Asia dan sudah hapal mana yang cocok dengan bentuk dan lekuk wajah orang asia. Hyung bilang, inilah salon pilihan orang-orang Korea yang ada di Indonesia. Orang-orang Indonesia yang ingin bergaya ala hallyu star pun datang ke salon ini.
(3) Panggilan oleh laki-laki untuk laki-laki yang lebih tua.
(3) Panggilan oleh laki-laki untuk laki-laki yang lebih tua.
Untukkku, bahasa Inggris, Korea, bahkan bahasa Indonesia pun, tidak masalah. Mendiang ayahku orang Indonesia, Hyung sudah lima tahun ini tinggal di Indonesia, masa kecilku pun di Indonesia dan kelebihanku, aku bisa dengan mudah menguasai banyak bahasa. Jadi, jangan heran kalau aku bisa membuat lagu dan menyanyikannya dalam berbagai bahasa. Inilah salah satu kelebihanku dibandingkan penyanyi lainnya.
Cewek di sampingku masih melirik-lirik seperti rubah pemangsa yang mengintai. Sialnya, akulah mangsanya. Dari cermin, aku melihat cewek di belakangku, dia lebih mencurigakan lagi. Awalnya hanya curi-curi pandang dari cermin. Lama-lama mulai intens. Dia melihatku terang-terangan. Setelah itu, matanya melakukan hal yang lebih jauh lagi, dia benar-benar memelototiku. Perasaanku semakin nggak enak. Aku menajamkan telingaku. Si Perempuan yang rambutnya sedang dicatok keriting itu menyolek temannya yang duduk di sampingnya. “Heh … kamu lihat deh cowok di belakangku,” cewek itu mendesis. Maksudnya berbisik, tapi suaranya terlalu keras untuk bisa dibilang berbisik. Jangankan aku, objek yang sedang dibicarakannya, beruang di kutub utara saja bisa mendengarnya.
Si Cewek yang dibisiki memutar lehernya seratus delapan puluh derajat demi melihatku, entah bagaimana dia melakukannya. Mata kami bertemu, dia kemudian melotot, mulutnya terbuka lebar hingga lumba-lumba bisa masuk ke dalamnya. Dia memegang pipinya dengan dramatis dan segera memutar kembali lehernya, menoleh pada teman di sampingnya. “Ya ampun, cowok itu mirip banget sama Jung Woo!”
Dadaku berdetak. Di cermin kulihat janggut dan kumis palsuku masih terpasang dengan baik. Bagaimana mereka bisa mengenaliku? Kemudian, aku menyetel wajahku dengan ekspresi normal, jangan sampai membuat curiga. Cewek di sebelahnya kemudian mengangguk-angguk bersemangat. Untung saja curling iron itu tidak mengenai pipinya. “Iya itu maksudku. Jangan-jangan dia emang Jung Woo Oppa (4)!”
(4) Panggilan oleh perempuan untuk laki-laki yang lebih tua.
“Ah nggak mungkin, habis konser kemarin, dia langsung balik ke Korea.”
“Itu kan berita di Internet. Gimana kalo cuma gosip?”
“Betul kok. Aku, kan nguntit rombongannya sampai bandara. Aku lihat sendiri kok, dia masuk ke check in counter di bandara.”
Mereka berdua kemudian serempak menoleh padaku. Pembicaraan mereka berdua didengar juga oleh perempuan berkepala steam di sampingku. “Oh ... Jung Woo-rang neomu dalmeusyeotneyo (5).” katanya sambil beranjak dari kursi steam dan menghampiriku. Gawat! “Jung Woo matjiyo? (6)” perempuan itu bertanya.
(5) Eh … kamu emang mirip banget sama Jung Woo.
(6) Kamu Jung Woo?
(6) Kamu Jung Woo?
“Saram jal mot bosyeonabwayo (7),” kataku. Ups … harusnya aku diam saja. Wajah perempuan itu kini di depanku. Hidungnya hanya beberapa senti dari hidungku. Dia pasti bisa melihat pori-pori hidungku. Nah, sekarang dia tahu, hidung mancungku ini memang asli, bukan plastik. Perlahan aku menarik kakiku yang tadi kuluruskan, siap untuk lari jika perlu. Dua perempuan yang ada di belakangku juga beranjak dari tempatnya dengan rambut keriting sebelah.
(7) Kamu salah, aku bukan Jung Woo.
(7) Kamu salah, aku bukan Jung Woo.
Salah satu dari mereka tiba-tiba menjerit, “Jung Woo Oppa! Oh, Jung Woo Oppa! Saranghae (8)!” Sekarang, bukan hanya tiga pasang mata plus stylist kami masing-masing yang menoleh padaku. Semua pengunjung salon menatapku. Suara hairdryer yang tadinya memenuhi ruangan tiba-tiba hilang.
(8) Aku cinta kamu
(8) Aku cinta kamu
Ini sungguh bahaya...
Alea Kei, Pengangguran
Bahaya! Peringatan untuk cewek-cewek yang tidak pernah akrab dengan stiletto, jangan pernah memakai yang sembilan senti kalau tidak punya muka cadangan. Itu pelajaran yang kudapat—sialnya—hari ini. Hari di mana interviu kerja berlangsung. Interviuku di Accent Mobile memalukan, mereka seperti akan mendepakku saat itu juga waktu aku terjengkang di depan direktur mereka. Kesialanku hari ini, tidak berhenti sampai situ, masih ada episode lanjutannya. Saat di mal, troli belanjaan tiba-tiba macet di ujung lapangan parkir, sedangkan mobilku—mobil induk semang, tepatnya—tadi kuparkir di ujung dunia. Mau enggak mau, aku harus menenteng semua belanjaan ini seperti babu merangkap kuli.
Tangan kiriku menenteng belanjaan, sementara siku kananku mengepit koran lowongan kerja dan tangan kananku masih menggenggam kantong belanjaan. Stilleto sialan ini membuat langkahku seperti kepiting. Belum lagi di bahu kiriku menggantung tas kerja, begitulah sebutannya, meskipun sebenarnya aku belum pernah menggunakan tas itu untuk bekerja. Setelah lulus dari jurusan Sastra dan Budaya Korea, aku menganggur.
Sudah hampir enam bulan aku kerja freelance sebagai translator bahasa Korea. Kadang, ada kerjaan kadang tidak. Menurut versi ibuku, itu bukan pekerjaan. Pekerjaan itu adalah sesuatu yang dilakukan dari pagi hingga sore, dan dibayar bulanan. Beberapa hari ini bisa bertahan hidup karena induk semangku sakit pinggang. Dia menyuruhku menggantikan tugas-tugasnya, termasuk belanja. Tentu saja, ada tip untuk itu.
Dengan susah payah, akhirnya aku tiba di ujung lapangan parkir. Segera aku memencet alarm mobil dan memasukkan semua barang-barang belanjaan dalam bagasi belakang. Tiba-tiba ada seorang cowok dengan kepala berhanduk berlarian di tempat parkir. Aku waspada, sepertinya dia orang gila. Orang gila itu meneriakkan sesuatu padaku. Coba saja kalau dia berani mendekatiku! Aku ini pernah jadi juara karate dan stiletto-ku ini bisa bikin lubang di kepalanya. Orang gila berkepala handuk itu terus menuju ke arahku.
Tiba-tiba dia membuka pintu mobilku dan duduk begitu saja di jok penumpang belakang. “Cepat masuk! Ayo!” dia berteriak padaku. Seolah ini mobilnya dan aku sopir yang lelet. Aku masih berdiri di dekat bagasi belakang dengan bingung. Ya ampun, cobaan apa lagi ini? Setelah stiletto sembilan senti, troli macet dan sekarang, orang gila. Aku segera menutup bagasi dan menggedor pintu mobil, “Keluar!” bentakku.
Dia benar-benar keluar. Namun, dia malah merampas kunci mobil dari tanganku, duduk di jok pengemudi dan menyalakan mesin mobil, “Ayo cepat masuk kalau mau ikut! Aku harus pergi dari sini!” Lho, emangnya ini mobil siapa?
Jangan-jangan dia maling! Panik melanda. Aku membuka pintu mobil dan menarik paksa dia ke luar. Kepala handuk terlihat panik. Dia celingukan, “Oke, kamu yang nyetir!” Dia bukannya pergi, malah masuk lagi ke mobil melalui pintu penumpang sebelah kiri. Dia menoleh ke sana kemari. Aku mengikuti arah pandangnya.
Gerombolan cewek-cewek berlarian ke luar mal, menuju ke arahku. Beberapa ada yang berambut basah, ada yang rambutnya masih dipasang rol, ada yang keriting sebelah. Apa ini? Tawuran! Tanpa bisa berpikir lagi, aku langsung masuk mobil, tancap gas cari selamat.
...... bersambung besok ya :)
Jumat, 12 Juni 2015
Book Trailer Mermaid Melody
Akhirnya jadi juga saya punya book trailer. Rencananya sih sudah dari dulu, tapi lagi-lagi cuma rencana yang terendap sampai lahir beberapa novel. Akhirnya di novel saya yang ke 10 ini, barulah book trailer selesai. Ini juga bukan saya yang bikin. Kebetulan ada support dari tim Arch Media yang bersedia bikinin book trailer ini. Arch Media ini, asliya perusahaan jasa kreatif IT dan sinematografi yang bikin film, aplikasi, web, AR, game, dll. Agak ajaib memang, mereka mau buatin perintilan semacam ini.
Book trailer ini adalah cuplikan dari novel saya Mermaid Melody. Tentang mencintai laki-laki yang akan menikah. Pilihan yang terisa adalah menikmati perasaan itu hingga waktunya habis atau meningglkannya lebih dulu dan mengabaikan perasaan itu saja.
Mudah-mudahan book trailer ini bisa membangkitkan hasrat untuk membeli novelnya hihihi....
Book trailer ini adalah cuplikan dari novel saya Mermaid Melody. Tentang mencintai laki-laki yang akan menikah. Pilihan yang terisa adalah menikmati perasaan itu hingga waktunya habis atau meningglkannya lebih dulu dan mengabaikan perasaan itu saja.
Mudah-mudahan book trailer ini bisa membangkitkan hasrat untuk membeli novelnya hihihi....
Rabu, 03 Juni 2015
Kamis, 19 Maret 2015
Mermaid Melody

Mermaid Melody, novel romance, qanita mizan, 2014
Sejak Ayah mengabaikan panggilanku dan pergi, cinta tak ada lagi maknanya untukku. Namun, laki-laki -yang tiba-tiba datang lalu menempel padaku seperti lintah- ini sangat percaya pada cinta. Ia bahkan rela menyebrangi lautan hanya untuk mencari seorang perempuan yang sudah dijanjikan akan dinikahinya saat mereka masih kecil.
Ia memaksaku untuk membantunya menemukan perempuan itu. Bagaimana mungkin aku terlibat dalam misi percintaan padahal aku sendiri apatis pada cinta?
Selasa, 27 Januari 2015
#Crazylove: LDR
2013, Bentang Pustaka
Kumpulan Novela bersama Christina Juzwar, Elsa Puspita, Anjani Fitriana, Riawani Elyta, Amira Budi Mutiara
Bagaimanapun ditiadakan, jarak akan tetap ada.
Apa yang terjadi bila kesetiaan dan pengkhianatan berjalaan tak seimbang dalam satu hubungan?
Bisakah menjaha hati hanya dengan saling percaya dan bisa dipercaya?
Langganan:
Postingan (Atom)
