slide

Senin, 15 Juni 2015

Cuplikan Mermaid Melody #1


Cha Jung Woo, Artis & Penyanyi


Perasaanku mulai tidak enak. Di sampingku, cewek Korea dengan kepala di dalam alat steam rambut sudah melirik-lirikku curiga. Kuraba atas bibirku, kumis palsuku masih menempel dengan sempurna. Matanya penuh hasrat ingin tahu. Pandangannya berganti-ganti, sebentar padaku, sebentar pada laki-laki di poster iklan cat rambut yang modelnya cowok Korea dengan tatapan memikat. Ya, itu adalah aku sendiri hi … hi … hi ….Sungguh, baru kali ini, aku merasa membutuhkan kreativitas anti-fans-ku untuk membuat posterku jadi bungkus ddong ppang (1) saja. Siapa sih orang kurang kerjaan yang membingkai posterku semewah itu? Dia mau bikin salon atau galeri?

(1) Disebut juga poop bread adalah jajanan khas Korea yang berbentuk kotoran. Biasanya dibungkus dengan kertas yang bertuliskan petunjuk cara memakannya. Di Korea, seseorang yang bermimpi tentang poop, dipercaya akan mendapatkan keberuntungan.

“Tolong kepalanya agak diangkat, Ahjussi (2),” kata sang Petugas Salon yang nggak tahu situasi. Sial! Aku menaikkan daguku sedikit. Antena waspada menyala sementara dia menutup rambutku dengan handuk hangat. Ah … enaknya .... Aku suka ini! Aku selalu memilih handuk hangat daripada steam rambut. Selain panasnya kadang suka kelewatan, steam rambut juga bisa membuat rambut kering. Handuk hangat lebih bersahabat dan nyaman.

(2) Paman.

Hal penting lainnya, yaitu pijitan kapster yang enak dan krim creambath alpukat yang bagus. Aku selalu creambath dengan krim alpukat, meskipun tidak sewangi krim buah lainnya, tapi alpukatlah yang paling efektif untuk menjaga kelembapan rambut. Rambut jadi tidak kering meskipun sering ditempa hair streightener atau curling iron. Dua benda itu, kan tidak mungkin dihindari setiap kali aku akan tampil di panggung.


Kyung Ro Hyung (3) benar, salon ini lumayan juga. Biasanya, aku tidak percaya selera Hyung, tapi mengingat dia sudah lama di Indonesia, kupikir, sebagai turis, tak ada salahnya aku mengikuti rekomendasinya. Hyung bilang, hairstylist di sini bisa berbahasa Inggris dengan baik, jadi kita bisa diskusi masalah tatanan rambut yang sesuai. Bahkan, beberapa hairstylist bisa berbahasa Korea. Mereka selalu update dengan tren rambut Asia dan sudah hapal mana yang cocok dengan bentuk dan lekuk wajah orang asia. Hyung bilang, inilah salon pilihan orang-orang Korea yang ada di Indonesia. Orang-orang Indonesia yang ingin bergaya ala hallyu star pun datang ke salon ini.

(3) Panggilan oleh laki-laki untuk laki-laki yang lebih tua. 


Untukkku, bahasa Inggris, Korea, bahkan bahasa Indonesia pun, tidak masalah. Mendiang ayahku orang Indonesia, Hyung sudah lima tahun ini tinggal di Indonesia, masa kecilku pun di Indonesia dan kelebihanku, aku bisa dengan mudah menguasai banyak bahasa. Jadi, jangan heran kalau aku bisa membuat lagu dan menyanyikannya dalam berbagai bahasa. Inilah salah satu kelebihanku dibandingkan penyanyi lainnya.


Cewek di sampingku masih melirik-lirik seperti rubah pemangsa yang mengintai. Sialnya, akulah mangsanya. Dari cermin, aku melihat cewek di belakangku, dia lebih mencurigakan lagi. Awalnya hanya curi-curi pandang dari cermin. Lama-lama mulai intens. Dia melihatku terang-terangan. Setelah itu, matanya melakukan hal yang lebih jauh lagi, dia benar-benar memelototiku. Perasaanku semakin nggak enak. Aku menajamkan telingaku. Si Perempuan yang rambutnya sedang dicatok keriting itu menyolek temannya yang duduk di sampingnya. “Heh … kamu lihat deh cowok di belakangku,” cewek itu mendesis. Maksudnya berbisik, tapi suaranya terlalu keras untuk bisa dibilang berbisik. Jangankan aku, objek yang sedang dibicarakannya, beruang di kutub utara saja bisa mendengarnya.


Si Cewek yang dibisiki memutar lehernya seratus delapan puluh derajat demi melihatku, entah bagaimana dia melakukannya. Mata kami bertemu, dia kemudian melotot, mulutnya terbuka lebar hingga lumba-lumba bisa masuk ke dalamnya. Dia memegang pipinya dengan dramatis dan segera memutar kembali lehernya, menoleh pada teman di sampingnya. “Ya ampun, cowok itu mirip banget sama Jung Woo!”


Dadaku berdetak. Di cermin kulihat janggut dan kumis palsuku masih terpasang dengan baik. Bagaimana mereka bisa mengenaliku? Kemudian, aku menyetel wajahku dengan ekspresi normal, jangan sampai membuat curiga. Cewek di sebelahnya kemudian mengangguk-angguk bersemangat. Untung saja curling iron itu tidak mengenai pipinya. “Iya itu maksudku. Jangan-jangan dia emang Jung Woo Oppa (4)!”
(4) Panggilan oleh perempuan untuk laki-laki yang lebih tua.


“Ah nggak mungkin, habis konser kemarin, dia langsung balik ke Korea.”

“Itu kan berita di Internet. Gimana kalo cuma gosip?”

“Betul kok. Aku, kan nguntit rombongannya sampai bandara. Aku lihat sendiri kok, dia masuk ke check in counter di bandara.”



Mereka berdua kemudian serempak menoleh padaku. Pembicaraan mereka berdua didengar juga oleh perempuan berkepala steam di sampingku. “Oh ... Jung Woo-rang neomu dalmeusyeotneyo (5).” katanya sambil beranjak dari kursi steam dan menghampiriku. Gawat! “Jung Woo matjiyo? (6)” perempuan itu bertanya. 
(5) Eh … kamu emang mirip banget sama Jung Woo.
(6) Kamu Jung Woo?

“Saram jal mot bosyeonabwayo (7),” kataku. Ups … harusnya aku diam saja. Wajah perempuan itu kini di depanku. Hidungnya hanya beberapa senti dari hidungku. Dia pasti bisa melihat pori-pori hidungku. Nah, sekarang dia tahu, hidung mancungku ini memang asli, bukan plastik. Perlahan aku menarik kakiku yang tadi kuluruskan, siap untuk lari jika perlu. Dua perempuan yang ada di belakangku juga beranjak dari tempatnya dengan rambut keriting sebelah.

(7) Kamu salah, aku bukan Jung Woo.


Salah satu dari mereka tiba-tiba menjerit, “Jung Woo Oppa! Oh, Jung Woo Oppa! Saranghae (8)!” Sekarang, bukan hanya tiga pasang mata plus stylist kami masing-masing yang menoleh padaku. Semua pengunjung salon menatapku. Suara hairdryer yang tadinya memenuhi ruangan tiba-tiba hilang.

(8) Aku cinta kamu


Ini sungguh bahaya...




Alea Kei, Pengangguran


Bahaya! Peringatan untuk cewek-cewek yang tidak pernah akrab dengan stiletto, jangan pernah memakai yang sembilan senti kalau tidak punya muka cadangan. Itu pelajaran yang kudapat—sialnya—hari ini. Hari di mana interviu kerja berlangsung. Interviuku di Accent Mobile memalukan, mereka seperti akan mendepakku saat itu juga waktu aku terjengkang di depan direktur mereka. Kesialanku hari ini, tidak berhenti sampai situ, masih ada episode lanjutannya. Saat di mal, troli belanjaan tiba-tiba macet di ujung lapangan parkir, sedangkan mobilku—mobil induk semang, tepatnya—tadi kuparkir di ujung dunia. Mau enggak mau, aku harus menenteng semua belanjaan ini seperti babu merangkap kuli.


Tangan kiriku menenteng belanjaan, sementara siku kananku mengepit koran lowongan kerja dan tangan kananku masih menggenggam kantong belanjaan. Stilleto sialan ini membuat langkahku seperti kepiting. Belum lagi di bahu kiriku menggantung tas kerja, begitulah sebutannya, meskipun sebenarnya aku belum pernah menggunakan tas itu untuk bekerja. Setelah lulus dari jurusan Sastra dan Budaya Korea, aku menganggur.


Sudah hampir enam bulan aku kerja freelance sebagai translator bahasa Korea. Kadang, ada kerjaan kadang tidak. Menurut versi ibuku, itu bukan pekerjaan. Pekerjaan itu adalah sesuatu yang dilakukan dari pagi hingga sore, dan dibayar bulanan. Beberapa hari ini bisa bertahan hidup karena induk semangku sakit pinggang. Dia menyuruhku menggantikan tugas-tugasnya, termasuk belanja. Tentu saja, ada tip untuk itu.


Dengan susah payah, akhirnya aku tiba di ujung lapangan parkir. Segera aku memencet alarm mobil dan memasukkan semua barang-barang belanjaan dalam bagasi belakang. Tiba-tiba ada seorang cowok dengan kepala berhanduk berlarian di tempat parkir. Aku waspada, sepertinya dia orang gila. Orang gila itu meneriakkan sesuatu padaku. Coba saja kalau dia berani mendekatiku! Aku ini pernah jadi juara karate dan stiletto-ku ini bisa bikin lubang di kepalanya. Orang gila berkepala handuk itu terus menuju ke arahku.


Tiba-tiba dia membuka pintu mobilku dan duduk begitu saja di jok penumpang belakang. “Cepat masuk! Ayo!” dia berteriak padaku. Seolah ini mobilnya dan aku sopir yang lelet. Aku masih berdiri di dekat bagasi belakang dengan bingung. Ya ampun, cobaan apa lagi ini? Setelah stiletto sembilan senti, troli macet dan sekarang, orang gila. Aku segera menutup bagasi dan menggedor pintu mobil, “Keluar!” bentakku.


Dia benar-benar keluar. Namun, dia malah merampas kunci mobil dari tanganku, duduk di jok pengemudi dan menyalakan mesin mobil, “Ayo cepat masuk kalau mau ikut! Aku harus pergi dari sini!” Lho, emangnya ini mobil siapa?


Jangan-jangan dia maling! Panik melanda. Aku membuka pintu mobil dan menarik paksa dia ke luar. Kepala handuk terlihat panik. Dia celingukan, “Oke, kamu yang nyetir!” Dia bukannya pergi, malah masuk lagi ke mobil melalui pintu penumpang sebelah kiri. Dia menoleh ke sana kemari. Aku mengikuti arah pandangnya.


Gerombolan cewek-cewek berlarian ke luar mal, menuju ke arahku. Beberapa ada yang berambut basah, ada yang rambutnya masih dipasang rol, ada yang keriting sebelah. Apa ini? Tawuran! Tanpa bisa berpikir lagi, aku langsung masuk mobil, tancap gas cari selamat.

...... bersambung besok ya :)