slide

Sabtu, 27 Juli 2013

Tetap di sini sebelum kamu datang



“Lain kali, kalo udah waktunya berangkat, dan gue nggak ada di tempat, lu pergi aja duluan.” Katanya serius, tatapannya kesal. Ya aku tahu, dia pasti malu gara-gara ulahku tadi. Kami jadi tontonan orang-orang sebandara dan harus minta maaf sama semua orang di pesawat. Seumur hidupnya, tuan muda ini pasti belum pernah melakukan hal itu.
“Makanya lu jangan sampe nggak ada, karena gue nggak akan pergi kemana-mana sampai lu dateng!” kataku. Aku telah menunggunya, lama. Lalu, kenapa sekarang aku harus meninggalkannya? Aku telah menantinya sejak berbulan-bulan sejak pertama kali aku mengenalnya, berharap hatinya yang beku mencair. Seperti mint ice cream yang lupa kumasukkan dalam lemari pendingin. Pasti  mencair dan meninggalkan sensasi dingin. Karakternya yang kuat itu tak mungkin hilang. Aku hanya ingin mencairkan hatinya, bukan untuk kumiliki sendiri. Aku ingin ia bisa merasakan cinta yang hangat dari orang-orang di sekelilingnya. Meskipun sekarang tak seperti itu, bukan masalah untukku karena aku tahu selalu ada jarak antara harapan dan kenyataan. 
“Hah! Kita liat, sekuat apa lu nunggu gue.” Kata Leon. “Kalo gue jadi lu, gue pasti udah pergi duluan.” Kedinginan kata-katanya membuatku membeku. Seperti ada bongkah es tajam yang merasuk ke dalam aliran darahku dan menyakitiku. Aku mengalihkan pandanganku ke luar jendela. Ku alihkan sesakku ke awan-awan putih yang bergulung-gulung di luar sana.
“Lula,” terdengar suara Leon melembut. Aku menoleh. “Makasih,” katanya singkat. Oh... ya ampun, apakah aku tidak salah lihat? Ia memang tidak tersenyum, tapi ekspresi wajahnya melembut dan dia bilang terimakasih! Satu kata itu saja bikin hatiku bercorak kembang-kembang. Kalau saja aku tidak memasang sabuk pengaman, aku pasti sudah melonjak dan memeluknya lagi. 
“Nggak masalah, kok Leon! Yang penting, sekarang kita berdua sama-sama,” kataku sambil memberikan senyum termanis untukknya. “Eh… Leon, gimana kalau udah landing, kita foto di depan pesawat. Foto berdua, ya! Ini pesawat kenangan kita!” Semangatku langsung berapi-api ketika ide gemilang itu melintas di kepalaku. Leon melengos, menautkan kedua alisnya, seolah aku mengusulkan untuk nyebur selokan bareng-bareng.

(Cuplikan novel The Mint Heart)