slide

Selasa, 30 Juli 2013

Tanya Jawab Penulisan

Beberapa waktu lalu, Haqi nanya pendapatku tentang dua hal di bawah ini. Pertanyaan bagus, semoga berguna buat yang lain juga.

Pertanyaan 1:
Meskipun fiksi, logika itu perlu. Ada pendapat yang menyatakan sebaiknya hindari kata-kata semacam 'Entah mengapa' atau 'Tiba-tiba'.

Jawaban:
Menurutku tidak. Lihat konteksnya dalam keseluruhan kalimat dulu.

Contoh:

Dengan langkah berderap ia masuk ke dalam rumah. Rambut iklanya bergoyang-goyang karenanya. Bibirnya cemberut, keningnya berkerut. "Kamu kenapa?" tanyaku. 
"Jangan ganggu, aku mau sendiri!" Tanpa kata lagi, ia menuju kamarnya dan membanting pintunya hingga tertutup rapat. Aku memandangi pintu yang tertutup itu, mencari jawaban di sana. Tiba-tiba, pintu itu terbuka, "Minggir! gue mau makan dulu sebelum mengurung diri."

Kata 'tiba-tiba' di atas tidak mengaburkan logika, jadi penggunaannya tidak masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika kata-kata tsb digunakan untuk berkelit dari logika.

Contoh:

Aku begitu membencinya. Tidak ada yang salah pada dirinya. Ia baik, cantik, ramah, temannya pun banyak. Mungkin karena tidak ada yang salah pada dirinya itu, aku jadi membencinya. Tadi pagi, seperti biasa ia lewat depan rumahku, dan tersenyum padaku. Entah mengapa aku jadi menyukainya. Senyumnya begitu indah.

Nah, inilah yang dimaksud 'hindari kata 'entah mengapa''. Kata 'entah mengapa' ini digunakan untuk berkelit dari penjelasan dari benci jadi suka. Harusnya, ada logika yang menjelaskan perubahan benci jadi suka ini.


Terlihat bedanya, kan? jadi tergantung konteksnya.


Pertanyaan 2:
Tokoh utama bisanya muncul pada bab 1 apakah tokoh utama boleh muncul di bab 2?

Jawaban:
Boleh. Ada novel sejarah yang begitu, demi kepentingan urutan plot atau silsilah tokoh. Tetapi biasanya di bab 1 diberi clue siapa yang nanti jadi tokoh utamanya. Kalau nggak gitu, biasanya 'GPS' pembaca otomatis mendeteksi si tokoh yang disebut-sebut di bab 1 sebagai tokoh utama yang harus diikutin kisahnya, padahal bukan dia. Juga harus ada alasan kuat kenapa penulis menunda perkenalan tokoh utama dengan pembaca. Manfaatkan halaman yang ada untuk mengikat tokoh utama dengan pembaca. Jangan sampai pembaca jadi merasa tidak terikat dengan tokoh utama sehingga dia nggak mau tahu bagaimana kisahnya.

 Menurutku begitu. Silakan yang mau nambahin. Semoga bermanfaat ^^