slide

Rabu, 24 Juli 2013

Dari awal, kita memang cuma punya satu pilihan setelah semua ini selesai, berpisah*




Dalam kebersamaan kita yang semu, kita menyadari bahwa perpisahaan itu pasti terjadi. Kita tahu bagaimana sakitnya nanti, tapi kita tak mampu melepas genggaman tangan yang sudah terlanjur erat. Tak mampu atau tak mau... Kita tak sempat memikirkan itu. Kau bilang, selama tangan kita masih bergenggaman, tak ada hal lain yang bisa merisaukanmu. Bukan tak ada, hanya kau yang tidak mau melihatnya ada, sang waktu. 

Kau genggam tanganku dan kauajakku berlari. Berlari menghindari sang waktu.  Namun, bagaimanapun, waktu adalah pelari paling tangguh. Ia menangkap kita di suatu pagi yang cerah. Begitu jelas kulihat kau terluka ketika waktu menyeretku pergi. Kau masih menggenggamku erat, tetapi tak cukup kuat untuk bisa menghentikannya. 

Aku resah, lelah, lalu aku menyerah. 

Kurenggangkan genggaman tanganku perlahan, kau menatapku tak percaya dengan penuh luka. Kusadari bahwa perpisahan bukanlah apa-apa. Melihatmu terluka, itu adalah luka yang sesungguhnya. Ketika genggaman tangan kita benar-benar terlepas, aku tak bisa melihatmu lagi, sebab air mataku mengaburkan dirimu. 


* Titien Watimena, script movie Hello Goodbye & Ayuwidya, novelisasi Hello Goodbye
image taken from http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSug7rVNmsG7MG6J0poWQokNxH_izSepsMQlLYrbNDWBrlarita