slide

Jumat, 05 Juli 2013

Itik Buruk Rupa



Mengapa  kamu hanya percaya pada matamu saja? Yang terlihat tidak elok dimatamu kau perlakukan buruk. Tidak kau acuhkan, karena matamu hanya mau melihat yang indah saja. Tidakkah kau ingat ketika dulu matamu yang bening masih memandang semua manusia sama. Waktu itu, Ibumu menceritakan kisah itik buruk rupa yang berubah menjadi angsa yang cantik. Kau lupa siapakah yang menciptakan itik itu. Sesempurna apakah dirimu hingga kau merasa layak untuk mencemooh ciptaan-Nya.

Aku tidak mengerti mengapa kamu hanya percaya pada matamu saja. Kalau aku tidak, karena Poni si kucing yang suka mengeong bisa diam lalu mati. Langit yang cerah bisa menghitam. Rambut Mamaku yang hitam bisa jadi putih. Ia yang biasanya tertawa tadi menangis. Semua yang bisa kulihat, berarti bisa berubah. Yang kekal justru tak terlihat.

Inti baru bisa kau temukan ketika kau telah sampai pada kedalaman. Tak bisa kau temukan hanya dengan melihatnya sambil lalu. Kau harus berusaha mengupasnya, seperti kacang. Bukankah kau memakan bagian dalamnya, bukan kulitnya? Kacang saja kau buang kulitnya. Kenapa manusia justru kau abaikan?

Apakah memang hanya matamu saja yang bisa dipercaya? Bukankah kau punya indera lainnya? Tak percayakah kau pada telingamu? Ia mendengar si itik buruk rupa itu bisa menyanyi hingga mengubah hatimu yang sedih jadi ceria lagi. Tak percayakah kau pada kulitmu? Ia merasakan genggaman tangan si itik buruk rupa mampu menarikmu berdiri ketika kau terjatuh. Tak percayakah kau pada lidahmu? Ia bersuka cita menyambut masakkan si itik buruk rupa yang khusus dibuatnya untukmu. Tak percayakah kau pada semua itu? Tak inginkah kau menilai juga dengan hatimu?

Jika memang begitu, aku cuma ingin tahu, apa yang akan kau katakan nanti pada si itik buruk rupa ketika ia telah berubah menjadi angsa yang cantik. 



image taken from http://1.bp.blogspot.com/-5VUIQ7nZMU4/UX6_ZZNeymI/AAAAAAAAK8w/SRSd7PZ1Wu4/s1600/UglyDuckling.jpg