slide

Jumat, 15 April 2016

Nulis Buku Apa?



Saya penulis, tapi saya nggak suka ditanya nulis buku apa. 
Saya pikir cuma saya, ternyata, diam-diam beberapa penulis juga begitu. 



Saya terkenang beberapa momen basa-basi di adegan perkenalan, setelah obrolan ngelantur ke sana-ke mari, lalu teman bicara tahu saya penulis, selalu pertanyaan berlanjut dengan entengnya, “Oh, penulis. Nulis buku apa?” Buat saya, ini semacam pertanyaan, “Oh, udah belajar perkalian. Jadi, 9435x4655 berapa?” *ngucurlah keringet dingin

Awal-awal di tanya begini, saya suka nggak ngerti ini pertanyaan arahnya ke mana. Perlu beberapa saat untuk mikirin konteks pertanyaan sederhana berjiwa mewah ini, beneran dia nanya judul bukunya? atau genrenya? atau sinopsisnya? atau penjabaran alurnya? atau nilai moralnya? atau kelebihan bukunya? dia nyuruh saya promosi atau gimana?

Pengalaman mengajarkan, jawaban yang paling aman adalah menjawab genrenya. Contoh, “Novel romance.”

Namun, kadang ada yang kepo juga, “Judulnya apa?”

Saya nyebut buku saya. Sampai sini ada dua kemungkinan yang menetukan nasib obrolan selanjutnya. Kemungkinan pertama adalah kemungkinan mengerikan yang menjatuhkan harga diri seorang penulis, yaitu keningnya berkerut, lalu dia bilang, “Oh....”

Saya balik tanya, “Tahu?”

“Enggak. Em... Aku nggak suka baca.”

Ini ibarat, saya udah ngitung perkalian pake lidi dijejer, udah ketemu hasilnya, lalu saya sodorin angkanya ke dia, “Bener nggak segini hasilnya?” Tapi jawaban dia, “Kalo aku sih belom belajar perkalian.” Pada saat seperti itu saya hanya bisa berdoa semoga diberi ketabahan.

Lupakan dia yang nggak tahu, karena kadang saya beruntung, ketemu orang yang tahu buku saya. Nah, ini kemungkinan kedua, dia tahu buku saya. Lalu, saya biasanya nanya, “Udah baca?”

“Belom. Aku pernah liat buku kamu. Ada di toko buku, kan?”

Ya iyalah, toko buku, masak iya di toko pakan ternak?

“Aku juga taunya dari temenku, dia udah baca loh buku kamu.”

Bagus. “Kamu baca juga dong.”

“Iya, nanti aku pinjem temen aku.”

Diiih, beli kek. 

“Emang ceritanya tentang apa sih?”

Kalo dia udah minta didongengi, repot. Saya nggak suka cerita lewat verbal, saya lebih suka bercerita lewat tulisan.  Rasanya pengen saya sodorin dia gambar cover belakang buku saya, di mana ada blurb di situ. Biar dia baca sendiri. 

Kalau ada pertanyaan begini, saya jawab dengan premis saja. Kalau dia minta lebih, dan suasana hati saya lagi baik, saya kasih cerita singkat. Ada obrolan yang lalu berlanjut, ada pula yang tidak. Indikasinya, kalimat dimulai dengan, “Ooo....” sambil pasang tampang datar.

Ini artinya dia nggak suka buku saya. “Kamu sukanya buku apa?”

“Yah... semacam Harry Potter dan Laskar Pelangi, deh.”

“Oh, aku juga suka. Tulisannya bagus, ya.”

“Em... aku nggak tahu sih tulisannya gimana, aku cuma nonton filmnya.”

Gantian saya yang pasang tampang datar. 

Karena itulah, saya, yang cuma seorang penulis apalah ini, sering menghela napas kalau ada pertanyaan buku saya tentang apa. Jadi, sebelum perjalanan muter-muter yang berujung di gang buntu seperti di atas, kalau saya ngeliat gelagat orang yang nanya cuma basa-basi, mending saya jawab, “Baca sendiri aja, ya.”

Beda kalau yang nanya memang benar-benar ingin tahu. Tentunya, saya dengan senang hati menjawab panjang lebar. Karena saya tahu, jawaban saya akan ada manfaatnya buat saya dan dia. Bukankah apa yang kita bicarakan harus ada manfaatnya?