slide

Kamis, 25 Februari 2016

Lebih dari Ini



Mengerikan!

Brenda datang dengan rok mini totol-totol yang seakan bilang bahwa dia adalah titisan macan kumbang. Sepatunya, boots semata kaki, tidak seperti sepatu petugas kebersihan  memang, kuakui sepatu itu sangat keren, tapi rasanya tidak pas saja, memakai sepatu semacam itu di Indonesia, walaupun ini musim hujan.
 Aku memutuskan untuk tutup mulut, tidak berkomentar, takut dikira kampungan. Siapa tahu sekarang ini boots semacam itu lagi trend? Aku kan tidak pernah lagi menyentuh majalah mode setelah menikah. 

“Hai… gils!” ia mencium pipiku, Berlian, dan Juwita satu per satu.  

“Gile, mau sirkus di mana?” Berlian menyuarakan kalimat yang tak berani kukatakan.

“Ck.. kampungan,” kata Brenda, “kayak baru kenal aja. Animal print, kan selera gue dari dulu….” kata Brenda sambil berputar memamerkan rok sepan mininya. Aku tidak tertarik dengan roknya, fokusku pada pinggang kecil yang kontras dengan pinggulnya. Dulu, ukuranku segitu. Beberapa kali aku meminjam rok nya, tentu yang modelnya lebih waras. Dulu, kami sama-sama kerja di sebuah majalah wanita. Kami berempat tes, diterima, dan training bersama. 

Brenda dulu jadi supeeer junior di bagian mode, sekarang sudah jadi senior editor mode. Karir yang cepat melonjak, perusahaan menghargai bakatnya. Karena itu juga aku tidak berani komentar, walau seaneh apapun pakaian yang dikenakannya.

“Mungkin laki-laki takut deket-deket sama elu, gara-gara animal print elu itu, rrrr!” Berlian memeragakan macan mengaum yang akan mencakar. Pandanganku spontan ke kuku-kukunya. Spontan saja, karena aku sering mengagumi kuku-kuku Berlian.  Dulu, Berlian sangat suka bereksperimen dengan nail art, saat nail art belum mem-booming seperti sekarang. Ia menggunakan ujung lidi untuk menggambar macam-macam, lalu, favoritnya, melapisinya dengan top coat bergliter.

Brenda menghela napas, terdengar berat. Wajahnya menjadi suram. Aku menyenggol Berlian. Upps, gumam Berlian. “Sorry, Bren, gue cuma bercanda.”

Brenda memajukan bibirnya yang berlapis lipstick ungu. Mungkin ini juga tren zaman sekarang yang kulewati. “Gimana, dong…”

“Gimana apanya?” tanya Juwita sambil mengulurkan buku menu pada Brenda. Kami semua sudah memesan.

“Berlian bener, udah umur segini, masak belom ada cowok yang mau sama gue?” kata Brenda menatap kami satu-per satu. Ia tampak tidak tertarik dengan buku menu yang digeletakkannya di meja. “Umur gue udah tiga tiga sekarang. Tujuh tahun lagi, rahim gue expired!”

Seketika, Juwita yang sedang minum tersedak. Ia terbatuk-batuk hingga beberapa saat. Menyadari tisu di meja kami habis, Brenda berlari ke meja sebelah, menyambar kotak tisu, dan memberikannya pada Juwita dengan ekspresi bersalah. 

“Maaf….” Setelah Berlian, kali ini giliran Brenda yang minta maaf.  Juwita sudah menikah enam tahun dan belum memiliki anak. Suaminya salah satu lelaki terganteng di dunia, menurutku. Ia punya perusahaan sendiri yang bisa menghidupi hingga tujuh keturunannya. Juwita tidak perlu bekerja sebenarnya, ia bisa tiap hari ke salon tanpa bangkrut. Dan terlebih dari itu, suaminya terlihat sangat menyayanginya. Sempurna, diam-diam, kami sering mengaguminya.

“Nggak apa-apa,” kata Juwita. “Udah pada lupa, ya, kita udah menghapus tata krama mengucapkan sorry dan makasih.”

“Udah, syukuri apa yang ada,” kataku untuk menetralkan keadaan. Ketiga temanku malah tertawa. Termasuk Juwita.

“Basi!” kata Berlian. “Gue nggak perlu elu untuk ngomong begituan. Emang siapa sih yang nggak bersyukur. Ini bukan masalah bersyukur apa enggak.”

“Kalimat yang udah nggak sakti lagi buat gue,” kata Juwita. 

“Apalagi gue,” kata Brenda memutar bola matanya. “Gue kesini untuk ketemu temen, bukan bu ustad. Apa yang mau gue syukuri? Laki nggak ada, anak nggak ada.”

“Lu punya karir yang bagus, lu bertiga,” kataku menatap mereka. Aku - ibu rumah tangga tanpa pekerjaan selain mengurus dua anak kembar ini- rasanya ingin menoyor jidat ketiga temanku ini. “Lu bertiga bisa menentukan jalan sendiri, nggak tergantung sama suami,” kataku menggebu. “Setidaknya, lu semua masih punya kehidupan sendiri.”

“Emang lu nggak punya kehidupan?”

“Nggak. Semenjak gue punya anak dan berhenti kerja, hidup gue sembilan puluh persen untuk anak, sepuluh persennya lagi untuk suami gue. Buat gue, nol persen. Gue udah nggak punya waktu untuk ngurus diri sendiri. Keramas aja gue buru-buru!”

“Gue juga,” kata Berlian. Ia punya satu anak dan masih bekerja. Tapi tidak di majalah kami dulu. Ia keluar begitu punya anak, dan mencari pekerjaan yang kantornya dekat, walaupun secara karir suram. Yang penting dekat dan uangnya lumayan untuk tamba-tambah. Kantornya hanya satu jam dari rumah dan bukan jalur macet. Dengan begitu, dia tidak pernah pulang terlambat dan membayar charge extra babby sitter-nya. Pekerjaannya pun tidak menguras otaknya. Ia tidak perlu membawa semua otaknya ke kantor. Ia bisa meninggalkan separuh di rumahnya. Untuk seorang Berlian yang cum laud, pekerjaannya yang sekarang hanya memerlukan seperempat otaknya saja. 

“Setengah hari lebih gue jadi buruh, sisanya gue jadi babu di rumah. Gue sampai nggak tahu hidup gue ini mau ke mana. Berkarir enggak, ibu yang bener juga enggak.”  Berlian menggigit bibirnya. “Harusnya gue bisa lebih dari ini.”

Kami terdiam, sibuk dengan pikiran sendiri-sendiri. Brenda yang mungkin memimpikan lelaki idaman, Berlian yang meragukan arah hidupnya, Juwita yang berharap punya anak, dan aku yang merindukan berkarya, diakui semua orang, bukan cuma dua anakku. Apakah aku terlalu tamak?   

“Kita bisa lebih dari ini, lebih dari kita yang sekarang.” Mereka menatapku. “Kalau kita mau mengorbankan apa yang kita punya sekarang. Mau?” mereka terdiam, aku juga.



NB: Buat mama-mama yang lagi perang stay at home mom dan working mom, sama-sama ada yang kita korbankan. Semakin menyerang, saya semakin curiga, pengorbanan Anda nggak ikhlas.