slide

Kamis, 21 April 2016

Perayaan Hari Kartini



Selalu, setiap tahun pada tanggal ini, saya melihat pemandangan anak-anak kecil menggunakan pakaian daerah, kebanyakan pakai konde dan kebaya. Katanya, memperingati hari kartini, biar seperti Ibu Kita Kartini. 

Yah… memang, Kartini memakai konde dan kebaya, tapi menurut saya kurang pas kalau yang dirayakan adalah konde dan kebayanya. Yang mesti kita rayakan bukanlah penampilan luarnya, namun semangatnya. Kartini toh tidak mengajarkan perempuan menggunakan konde dan kebaya. Ia justru mengajarkan kita untuk melepaskan ‘konde dan kebaya’, hal-hal yang mengungkung hak manusia bagi perempuan. Lalu, kenapa sekarang kita malah mendandani anak kita pakai konde dan kebaya?

Kalau memang harus dandan untuk lucu-lucuan peringatan hari ini, saya lebih suka parade kostum. Beberapa sekolah sudah melakukannya. Biarkan anak-anak memilih kostum sesuai cita-citanya. Anak yang mau jadi dokter, pakailah kostum dokter, yang mau jadi polisi, pakailah pakaian polisi, yang mau jadi koki, pakailah celemek. 

Jadikan hari ini momen untuk menularkan ide dan semangat Kartini, agar anak-anak bisa menghargainya (dan orang lain) bukan sebatas penampilan konde-kondean saja. Saya rasa, anak-anak bisa mengerti jika kita menjelaskan siapa Kartini dengan sederhana. Lalau, kita bisa melakukan kegiatan yang mengeksplor cita-cita mereka, dan menanamkan bahwa mereka bisa jadi apa pun yang mereka inginkan. 


NB: Pakaian daerah lebih cocok untuk perayaan 17 agustusan, IMHO