slide

Selasa, 07 Mei 2013

Memberi



“Dia cowok yang baik,” kubilang begitu pada seorang teman.
Temanku langsung menatapku penuh selidik, “Baik? Memangnya dia ngasih apa sama kamu?”
“Hey, apakah begitu caramu mendefinisikan kebaikan? Dari pemberian?” tanyaku.
“Ya. Orang bisa bilang bahwa orang lain baik itu karena orang lain itu pernah memberi sesuatu untuknya. Entah memberi uang, entah memberi waktu, entah memberi perhatian, atau memberi yang lain-lain. Jadi, apa yang dia berikan untukmu?”
Tadinya aku merasa tersudut, setelah kupikirkan lagi, dengan enggan kuakui temanku benar. Meski aku tak pernah repot-repot mengkategorikan orang baik atau jahat, semua orang yang pernah kusebut orang baik adalah orang-orang yang telah memberiku sesuatu. Kutambahkan lagi, sesuatu yang lebih dari batas normal. 
Kubilang Ibuku baik karena ia telah memberikan cintanya yang begitu besar padaku. Kubilang pacarku baik karena ia telah memberikan perhatiannya untukku lebih dari laki-laki lain. Kubilang salah satu klienku baik karena ia telah memberikan bonus diluar fee yang kudapatkan. Kubilang klienku yang lain lagi baik karena ia memberikan kepercayaan lebih padaku. Kubilang temanku baik karena ia telah memberikan waktunya ditengah malam buta hanya untuk mendengarku menangis.
Dengan mengabaikan kemungkinan dari faktor-faktor lain; apa yang diberikan, ketulusan, persepsi si penerima dan lain-lain, perbuatan memberi bisa menjadi langkah awal untuk benar-benar menjadi orang baik, atau hanya untuk dilihat sebagai orang baik.