slide

Selasa, 07 Mei 2013

Niat Baik Tak Selalu Jadi Baik



Dulu, di kampung, tetangga belakang rumahku memelihara banyak ayam. Suatu saat, nasi di rumah kami bersisa, akhirnya basi. Kupikir, daripada nasi itu dibuang, lebih baik kuberikan pada ayam-ayam tetanggaku. Sore itu juga kubawa nasiku ke pekarangan belakang. Ayam-ayam itu masih berkeliaran di sana, belum masuk kandang.
Kutebarkan nasi itu di pekarangan. Ayam-ayam itu langsung berkotek riang dan mematuk nasiku dengan senang. Kubiarkan ayam-ayam itu menyantap pakan tambahan dariku sementara aku kembali ke rumah. Tak berapa lama, tetanggaku mengetuk pintu rumahku, “Kamu yang memberi makan ayam-ayamku?” tanyanya dengan wajah dan nada bicara yang sama tak enaknya.
“Iya,” kataku.
Satu kata dariku saja, langsung membuat tetanggaku meledak, “Apa maksudmu memberi ayam-ayamku nasi basi? Mau meracuni ayam-ayamku? Ayam-ayamku tidak pernah makan nasi basi, tahu?!”
Saat itu aku terhenyak. Tak ada niatku meracuni ayam-ayamnya. “Maaf,” hanya kata itu yang terpikir olehku.
“Kamu bikin pekarangan saya kotor sama nasi-nasi basi kamu itu,” semprotnya. Maafku pun sudah tak didengarnya lagi. Maka saat itu juga, setelah ia puas marah-marah, aku kembali ke pekarangan belakang. Ayam-ayam telah dimasukkan kandang, rupanya ia begitu takut ayamnya keracunan nasiku. Sambil menyapu pekarangan tetanggaku, aku berpikir, tidak semua niat baik ditanggapi dengan baik. Jadi sekarang, mau berbuat baik saja aku harus mikir.


*Dikisahkan oleh seorang teman.