slide

Jumat, 01 November 2013

janji (1)


Binar bulan akan segera menggantikan kilau senja. Kita masih saja duduk bersisian di sini. Pada sebuah bangku taman yang sudah kita duduki sejak tiga jam yang lalu. Saat itu, suara kita bersaing dengan teriakan anak-anak kecil yang bercanda dan deru kendaraan yang melintas di sekitar taman. Saat itu, aku harus bicara agak keras agar kamu mendengarnya. Namun kini, aku bicara pelan. Sebab, segala bising itu tak lagi ada dan suaraku menjadi sesuatu yang rapuh. Keras sedikit maka pecahlah tangis.

“Apa kamu yakin?” tanyamu juga pelan. Tanganmu masih menggenggam tanganku. Entah untuk yang keberapa kalinya kamu bertanya sebelum kamu melanjutkan dengan bujukan padaku untuk terus menepati janji setia kita. Janji setia untuk selalu bersama, janji yang berujung pada pernikahan kita. Janji yang begitu indah, sebenarnya.

Untunglah angin bertiup dan membawa beberapa helai rambut menutupi wajahku. Aku tak berani menatapmu. Kamu mengguncang tanganku, “Lihat aku, dan katakan sekali lagi... ayo, katakan sekali lagi, maka aku tidak akan bertanya lagi. Itu akan jadi yang terakhir,” pintamu lirih.

Dengan menguatkan seluruh perasaanku yang mulai retak di sana-sini, aku menengadah. Kutahan semampuku air mata yang mulai mendesak, mengaburkan pandanganku. Aku tidak ingin kamu melihat air mataku. Sebab, kamu tak boleh tahu kalau aku terpaksa. Kamu tunduk padaku, tapi tidak pernah menurut pada keterpaksaan. Aku ingin kamu menyangka ini adalah kehendakku. Kuangkat daguku, sesuatu yang biasanya dengan mudah kulakukan, kini menjadi begitu sulit dan teasa berat.

Aku menatap matamu karena harus. Hanya ini yang membuatmu percaya. Di sana kulihat cinta, harapan, impian yang begitu indah. Ingin aku memeluk semuanya, seperti dulu. Tapi aku tak boleh, demi impianku sendiri. “Aku ingin putus,” kataku pelan, hampir tak terdengar olehku sendiri. Tak bisa kutanggung sakitku yang kini benar-benar pecah karena janji setia yang telah terucap, kuruntuhkan hanya dengan sekali ucap. Kulihat matamu redup, dan aku merasa menjadi perempuan paling jalang di dunia.

(bersambung)