slide

Rabu, 30 Oktober 2013

lumba-lumba

Pagi itu, masih terlalu pagi untuk bangun. Namun, kamu sudah memencet-mencet bel pintu kamarku sehingga tidak ada pilihan lain untukku selain bangun. Senyummu yang polos membuatku tak ada pilihan lain selain meredam kesalku. Kamu juga tidak memberiku pilihan lain waktu menarik tanganku, menggiringku ke gerbang belakang hotel.

Pagi masih menyaru dengan malam. Matahari belum muncul dan bulan hanya meninggalkan berkasnya. Udara dingin menyapa pori-pori kulitku, tapi tak cukup dingin untuk membuatku menggigil. Di dekat pintu gerbang, seorang tukang perahu sudah menunggu. Beberapa meter di depan sana, laut Lovina yang gelap memantulkan kemilau cahaya bulan. "Sudah jauh-jauh liburan ke Bali masak mau tidur saja."
"Kita mau melaut sepagi ini?" Suaraku mungkin tenggelam oleh debur ombak karena kamu tak menjawab. Hanya tersenyum sembari memakaikan pelampung.

Kita melaut cukup jauh, langit sudah mulai mengguratkan berkas-berkas oranye, hingga tukang perahu bilang, "Nah benar kan, sudah saya bilang sama Mas, musim lumba-lumba sudah lewat. Beberapa hari yang lalu, saya juga bawa turis yang mau lihat lumba-lumba. Sayangnya nggak ketemu," kata tukang perahu. Oh... jadi kamu membawaku kemari untuk melihat lumba-lumba. Sepertinya, sudah lama sejak aku bilang aku ingin melihat lumba-lumba. Waktu itu, waktu kita menonton pertunjukan lumba-lumba yang melompat di lingkaran api. Ketika yang lain bertepuk tangan, kamu tidak. Kamu bilang, "Kasihan... kasihan kalau dia meleset. Dia tidak dilahirkan untuk mempertaruhkan nyawanya demi tepukan tangan penonton."

"Kalau begitu, kita jangan menonton. Lain kali, kita lihat lumba-lumba di laut lepas. Aku belum pernah lihat," kataku

"Ya, ide bagus. Aku juga belum pernah melihatnya. Kapan-kapan kita lihat, ya."

Sayang, kali ini, kita salah waktu sehingga tidak bisa melihat lumba-lumba itu, musim migrasi mereka sudah lewat. Kamu pasti kecewa. Tiba-tiba si tukang perahu berterika, "Lumba-lumba! lihat! itu rombongan lumba-lumbanya!" Mataku mencari-cari yang ditunjuk si tukang perahu yang kini melajukan perahunya semakin cepat. "Lumba-lumba!" Rombongan lumba-lumba berenang melompat-lompat lincah dengan riangnya. Cahaya matahari yang masih malu-malu berkilau di kulit mereka yang hitam. Pekik mereka terdengar sayup ai antara deburan ombak. Kami terdiam di perahu. Terpesona oleh keelokkan pemandangan rombongan lumba-lumba. Ini lebih menakjubkan dari atraksi lumba-lumba manapun. Lumba-lumba besar, lumba-lumba kecil berlompatan lincah. Satu rombongan, di susul rombongan yang lain.

"Kalian beruntung. Ada rombongan lumba-lumba yang telat pindahan," kata tukang perahu.

"Dia memang selalu membawa keberuntungan," katamu sambil membelai rambutku yang diacak angin laut. "Makanya, walaupun Bapak bilang ini bukan musim lumba-lumba, saya tetap mau melaut." Kamu tersenyum bahagia, tidak ada alasan untukku tak ikut tersenyum. Sekali lagi kamu bilang, "Kamu memang membawa keberuntungan, lumba-lumba itu datang untuk menyapamu yang sudah jauh-jauh kemari."

---
Aku membuka mataku, bukan bangun dari tidur, aku tidak bisa tidur beberapa hari ini sejak pagi itu. Pagi itu, masih terlalu pagi untuk menyadari bahwa kamu telah pergi. Tapi aku cukup sadar, lumba-lumba itu muncul bukan untuk menyapaku, tapi menyapamu, untuk yang pertama dan terakhir kali sebelum kamu menutup mata untuk selamanya.