slide

Rabu, 28 November 2012

Hello Goodbye, skenario ke novel



Eh… besok ya, udah mulai penayangan film Hello Goodbye. Aku ikut seneng waktu tahu film Hello Goodbye ini masuk nominasi FFI dalam tiga kategori. Penulis scenario terbaik (Titien Watimena), Pemeran wanita terbaik (Atiqah Hasiholan), Pemeran pembantu dan wanita terbaik (Kenes A). Semoga film ini juga disambut masyarakat dengan baik. Tentu, aku berharap untuk novelnya juga. 

Mungkin ada yang bingung ini film jadi novel atau novel jadi film. Gini ya, aku luruskan, jreng… jreng…  ini adalah novel yang diadaptasi dari scenario film, bukan novel yang diangkat jadi film. Wow, pengen sih, sayangnya aku belum sehebat itu. Untuk membuat novel ini, memang agak ngebut, kerena deadlinenya dimajuin. Untungnya Mizan dan Falcon punya kerja sama yang baik, sehingga apa yang diperlukan buat ngebut novel ini bisa tersedia J mulai dari screening film sampai wawancara dengan Mbak Titien Watimena. 

Saat itu, pertama kali ketemu dengan Mbak Ttitien. Sebelumnya cuma kenal namanya aja sebagai penulis scenario tingkat dewa. Lebay, maksudku yah, penulis scenario top lah. Aku aja yang jarang nonton film, (yap, tontonanku didominasi drama Korea) kenal namanya. Jadi waktu diajak Mas Peter (Mizan) wawancara sama beliau agak gimanaaaa gitu. Takut sombong, dicuekin, dimarahin, dan bla bla bla, tapi ternyata enggak. 

Dari wawancara yang sekitar satu-dua jam ini, Mbak Titien sangat membumi. Bisa ketawa, bisa cerita dan dengan sabar dia menjawab semua pertanyaanku. Yah, you know lah, pertanyaanku suka nggak penting hahaha, that’s why aku nggak mau jadi wartawan. Diskusi  waktu itu banyak seputar kalimat-kalimat ajaib yang terselip di scenario. Inilah yang aku suka dari skrip Mbak Titien. Dia bisa menyelipkan kalimat yang meski secuil tapi ‘jleb’ di hati dan merasuk di otak. Menggali sesuatu yang nggak pernah kita pikirkan dan merasakan sesuatu yang mungkin terabaikan. Mbak Titien seperti  menyuguhkan sudut pandang baru tanpa menutup sudut pandang subjektif audiens. 

Contohnya… aduh nggak bawa contekan, kira-kira begini. Waktu itu, Abi berkata, “Hidupku dimulai waktu Ibu melambaikan tangan, melepasku ke kapal.” (Abi adalah anak buah kapal yang menghabiskan hidupnya berpergian melintasi laut). Lalu dia bertanya sama Indah, “Kalau kamu?”
Sebelumnya, aku nggak pernah kepikiran hidupku dimulai dari mana. Apa kalian juga pernah sejenak berpikir hidup kalian dimulai dari mana?  Yang ditanya adalah hidup bukan lahir atau bernafas. Dari sini saja, kita udah mulai diajak mikir tentang makna hidup dan kapan hidup itu dimulai. Makna, dia bertanya tentang itu. Ia menyuguhkan sudut pandang Abi untuk mengungkap hidup dalam versi Abi, dan tidak membiarkan audiens berpikir sendiri mengenai makna hidup untuknya. Sebuah pertanyaan besar.
Indah, dalam scenario itu, tidak menjawab. Dia tidak tahu, mungkin lagi mikir. Lalu, Abi nanya lagi, “Katanya kamu selalu punya target?”
Indah, “Hubungan sama pertanyaan kamu tadi apa?”
“Gimana kamu bisa mencapai tujuan kamu kalau kamu nggak tahu dimana awalnya?”
Nah… silakan jawab. 

Jadi, kalau Mbak Tititen Watimena dinominasikan jadi penulis skrip terbaik, menurutku pribadi  ya dia pantas untuk itu.

Temukan pemikiran dari sudut pandang berbeda tentang hidup, yang menyuguhkan makna perpisahan, pertemuan, cinta dan cita di dalam film dan novelnya.