slide

Rabu, 26 Oktober 2011

Novelisasi pertama, Mestakung

Ini pertama kalinya saya mengerjakan novelisasi film. Filmnya pun bukan film yang tanggung-tanggung. Kombinasi antara Mizan Production dan John de Rantau bikin saya jiper. Apa iya novelisasinya bisa jadi sehebat yang mereka bikin? Ya... walaupun waktu itu filmnya belom jadi tapi buat saya kombinasi itu satisfaction guarantee lah. Liat aja film mereka sebelumnya, Denias, Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, *garuk garuk tanah

Namun, saya tahu, keraguan nggak akan membawa kita kemanapun. Maka dengan muka tebel saya baca sekenario itu. Saya langsung jatuh cinta. Jatuh cinta saya tidak tahu mau saya apain lembaran-lembaran ini?



Dalam waktu singkat, sebulanan kalo nggak salah, skenario ini harus jadi novel. Seiring berjalannya waktu, saya tahu bahwa pekerjaan ini bahkan tidak semudah kedengarannya. Mentang-mentang ide, plot, konflik, latar sudah tersusun, lantas tinggal diubah formatnya. Nggak begitu. Bisa sih begitu. Tapi akan jadi kering. Itu konsep sekenario, skenario bisa dinikmati kalau sudah di filmkan. Sedangkan novel, ia sendiri harus bisa membuat pembacanya nikmat.

Akhirnya dari segala informasi itu, saya ambil intinya, alurnya saya rapikan lagi, kalau perlu ada adegan tambahan supaya penokohannya lebih kuat. Latar budayanya pun saya riset lagi. (beberapa catatan mengubah sekenario jadi novel di psoting selanjutnya)

Semesta mendukung. Saya beruntung ada temen, Putri, yang mau bantu riset. Pihak Mizan production pun sangat membantu. Mbak Olien, Pak Kris, orang-orang sibuk ini kok ya mau-maunya saya recokin dengan pertanyaan seputar cerita. Editorku Mbak Esthi, well... sampai novel ini selesai nggak ketemu orangnya, tapi rasanya dia orang yang hangat, sungguh editor yang menentramkan dikala kelabakan.Si Mas Peter tentunya nggak ketinggalan, dia yang buka pintu, dia editor yang kayak kutu menclak menclok, dia ini jembatannya. Jadi... kalau novel ini selesai, ini adalah kerja semua orang ini, bukan saya seorang.