slide

Rabu, 10 Juni 2015

Kaset Jihan dan Bapak

Kembali kehilangan, dan masih juga menangisi kehilangan, meski sudah berniat untuk lebih tegar kali ini.

Beliau, Bapak Soghibi dipanggil Tuhan pagi tadi.  Almarhum memang tidak memiliki hubungan darah dengan saya, tapi dia bapak saya. Dulu, waktu saya kecil, saya sering dititip ke rumah almarhum. Saya memanggilnya Bapak dan Ibu Soghibi 'Ibu' dalam arti yang sebenarnya bukan sapaan.

Kebetulan mereka punya dua anak yang umurnya tidak jauh dari saya dan adik perempuan saya, jadi kami selalu bermain bersama, hingga saat ini, meskipun dalam frekuensi dan permainan yang tidak lagi sama.

Dulu kami senang sekali kalau Bapak menyetelkan kami kaset Jihan. Karenanya, Bapak menyetelnya berulang-ulang, sampai kami berempat hapal satu album. Kami bahkan berkreasi menciptakan tarian untuk lagu Jihan itu. Entah siapa Jihan itu sekarang.

Sekitar dua minggu lalu, Bapak sakit. Saya menengok begitu mendapat kabar. Ia pangling melihat saya. Terakhir kami bertemu mungkin lebaran tahun lalu. 'Ini anakku yang satu lagi,' ingatnya sambil tersenyum. Ia memang terlihat lemah seperti orang sakit pada umummya. Tapi ia masih bisa ngobrol seperti orang sehat. Jadi saya pikir mungkin lusa ia bisa pulang.

Ternyata kesehatannya makin memburuk dengan diagnosis ini-itu yang saya tidak mengerti. Akhirnya beliau berpulang pagi tadi. Baris-baris doa kami mengantar semoga beliau mendapat kebahagiaan abadi di sisi-Nya, sebahagia kami dulu, bocah-bocah kecil yang diseteli lagu Jihan.

Foto: saat pesta ulang tahun saya, bapak juga datang. Ini kue untuk Bapak.