slide

Senin, 23 Maret 2015

Jika aku berani mengatakannya




Seukir senyum hanya untukku setelah satu semester aku menyukaimu dan sepuluh menit menatap hujan. "Pakai saja," katamu sambil mengulurkan payung kotak-kotak biru. "Ibuku maksa aku bawa payung, padahal aku laki-laki." Kamu tersenyum lagi dan aku terpaku beberapa detik sebelum menerima payungmu.
Senyummu terlalu tiba-tiba, seperti hujan ini. Meski aku telah lama menyukaimu, dan banyak mimpi bertajuk "andai kamu menyapaku, ini yang akan kukatakan untuk membuatmu terkesan", tapi nyatanya tidak satu kata pun yang kuingat sekarang. "Makasih." dari ribuan kalimat cerdas yang seharusnya aku katakan, aku malah hanya bisa mengatakan itu. Sebuah kata yang memang sudah seharusnya, sebuah kata yang ribuan orang akan katakan, sebuah kata yang malah mungkin akan menyelesaikan percakapan. Wajar tapi bodoh.
"Sama-sama, gue jadi punya alasan buat ujan-ujanan," kamu tersenyum lagi, "duluan ya," katamu sebelum berlari kecil menembus hujan.
Beberapa menit setelah kamu pergi, otakku baru bekerja dan menemukan sebuah kalimat yang seharusnya tadi aku ucapkan, "Kita pakai berdua, ya?" Mungkin akhirnya akan berbeda, itu pun jika aku berani mengatakannya. 

Sent from my Sony Xperia™ smartphone